Senin, 01 November 2010

For You, From Your Secret Admirer

Kau memasuki ruangan
Pandangan kita bertemu
Karena malu aku langsung memalingkan wajahku
Tak sempat senyum kusunggingkan untukmu
Kau membuat jantungku berdegup kencang
Gerak-gerikku pun tak terkendali
Kumelangkah menjauh
Tapi ternyata kau ada di sisiku
Susah payah kukontrol napasku
Dan kutahan senyumku
Walau kuingin tertawa bahagia
Karena mimpiku terlaksana

Aku tahu kau sadar akan daya tarikmu
Tapi apakah kau tahu kalau kau melelehkanku?
Mengubah total diriku menjadi seorang remaja
Yang akan berbuat apapun demi idolanya
Aku memuja setiap inci tubuhmu
Senyum dan suaramu membuatku terbuai
Apalagi tatapan matamu padaku
Tahukah kau betapa aku sangat menginginkanmu?
Tapi kutak kuasa berucap
Hanya magnetmu yang menarikku
Tuk senantiasa memandangimu
Entah bagaimana kau bisa memahami perasaanku
Aku ingin mengenalmu lebih jauh
Aku ingin kau memperhatikanku
Aku ingin menjadi orang terdekatmu
Mungkin ini hanya kekaguman
Mungkin ini bukan cinta
Tapi bagaimanapun juga
Kau membuatku rindu
Akan waktu yang kita lewati bersama

Senin, 20 September 2010

Gangguan Penyesuaian

Perempuan, 22 tahun dengan keluhan utama lemas dan mudah capek sejak 3 minggu lalu. Sejak 3 minggu lalu, OS merasa lemas dan mudah capek. Lemas dirasakan terutama pada punggung, membuat pasien terlalu lelah untuk duduk dan hanya mau berbaring. Pasien masih dapat berjalan jauh. Pasien mengaku mengalami gangguan tidur. Selama seminggu pasien mengatakan sulit tidur, namun bisa diatasi dan saat ini merasa terlalu sering tidur dan cepat mengantuk. Siang hari sudah mengantuk dan berkali-kali tertidur saat diskusi maupun kuliah walau malamnya sudah tidur cukup. OS juga merasa tidak bergairah untuk melakukan kegiatannya sehari-hari, kurang nyaman dengan lingkungan sekitarnya, dan mengalami perubahan suasana yang membuatnya selalu murung. Pasien adalah orang yang gemar menonton di bioskop namun menjadi malas untuk bepergian. Ia hanya ingin tidur di rumah. Pasien mengaku sering melamun dan menghabiskan waktunya di depan komputer berjam-jam tanpa melakukan sesuatu yang berharga. Nafsu makan meningkat, pasien tidak peduli dengan berat badannya. BAK semakin sering, membuat pasien curiga kena infeksi, memeriksa lab, dan minum antibiotik selama 3 hari. BAB tidak teratur, tidak menentu, kadang seperti mencret, kadang normal, kadang susah keluar. Sakit perut sering dialami, waktu tidak menentu, terasa mulas.

Tiga minggu lalu, pasien ditinggalkan orang yang disayanginya.

Dream

Last year, when my Oma was hospitalized for about 3 weeks, I kept praying to God, "Please heal her, give her at least another 2 years, until my graduation." And I used to imagine the day I would graduate as "Dokter", I would wear my robe, along with the hat, came into Oma's room, and told her proudly. "I'm a doctor, Oma!" And she would smile happily as I was the only grandkid so far who followed my grandpa's and mom's career. I replayed the scene over and over because she was the motivation I still survived in this study. As the time goes by, I imagined two scenes, one is for my "Sarjana Kedokteran" graduation, and the second is what was mentioned above. The script was the same, I was preparing to wear the robe and the hat, I surprised my Oma in her room and of course, she would smile... widely... as she used to do everytime I opened her door.

Last month, when Oma was hospitalized for the last time, I kept praying to God, "Please heal her, give her some time, at least until my uncle's arrival (which was the day she died)." And we tried so hard to keep her alive. We told her that my sister would return from Malaysia (6 days before), her sister would return from Australia (5 days before), I would graduate (1 day before), and surely, my uncle's arrival - which was too late. Anything to give her more strength, more motivation. And I would never imagine that in the day that I graduated as "Sarjana Kedokteran", the scene would be totally different. With only t-shirt, shorts, and flip flops (as I had washed my hairsprayed hair and make-up face) and a bag of robe and hat, I would enter Oma's room in hospital. I wore a mask, smiled to her, hoping that she was conscious, but she was sleeping with her mouth wide opened. And I would never imagine that that day, I would take a picture with her in an unconscious state. But that was happened. And I want to punish myself because when she woke up, I didn't tell her that I had graduated, that I was "S, Ked." then. Because if I had told her, MAYBE... she would be happier and stronger, facing the day after, waiting for her beloved son. And of course I would never imagine that that was the last time I saw her alive...

People said that I had to let her go and I told them I did. But as time goes by, I kept tracing back her symptoms, what must be done and what mustn't be done. It was really hard to let her go, sorry... it IS hard to let her go.

Rabu, 01 September 2010

For Oma

She's a fighter...

He left her due to cancer

Then she fought her best for her 7 kids

And she succeeded


She's a fighter...

She had RA in her 70s

She did all the forbiddances

She did all the medications

She did all the rehabilitations


She's a fighter...

She had to face the death of her own daughter

And she stood up, fought to walk again


She's a fighter...

She couldn't accept that she was getting sicker

But slowly,

She let us help her


She's a fighter...

When the CAP infected her

And all of her kids accompanied her

She fought...

With a decompensated heart and pulmonary edema

She was back to life

A life with NGT and catheters

And she didn't complain

She smiled everytime we talked to her


She's a fighter...

She had to face the reccurent urinary infection

She had to be hospitalized every 1 to 3 months

Yet she used to go home


She's a fighter...

The last time she was hospitalized

Everything was different

The symptoms, the room

Apparently she got Pseudomonas and HAP

And still, she fought for about a week

Then she was free from the suffering

Leaving us a big hole in our hearts


She's the strongest person I've known

For 84 years she had fought

for love and family

Living a silent and immobilized life

The one person who lived for others

The one person who watched us

The one person who loved us

She's my OMA...


Sabtu, 31 Juli 2010

God works in mysterious ways

Hari Kamis, tanggal 22 Juli, aku bangun dengan perasaan perih di lambung. Rasanya seperti maag kambuh akibat lama tidak makan tetapi jauh lebih parah. Aku teringat bahwa malam sebelumnya aku juga merasakan hal yang sama. Terdengar dari luar kamarku, papa sibuk melakukan segala sesuatu sebelum ia berangkat. Aku pun keluar dan setelah menimbang beberapa lama, aku mengatakan bahwa maagku sepertinya kambuh. Karena saat itu kira-kira sudah jam 9, papa tidak meladeni keluhanku, apalagi hanya maag. Ia pun pergi dan meninggalkanku merenungkan gejala yang kualami ini. Pikiranku jauh melayang sampai ke ulkus peptikum, perasaan perih disertai nyeri yang semakin parah bila aku berjalan, bahkan tidur terlentang. Aku pun mengirim pesan singkat kepada papa dan sore harinya (dengan penuh penderitaan menjalani siang hari), aku ke dokter. Dan juga dengan penuh penderitaan menunggu kurang lebih 2 jam dengan harapan bertemu dengan seorang KGEH, aku hanya bertemu SpPD biasa. Tidak disangka saat itu aku demam tinggi dan aku pun diberi obat dan diet ketat untuk maagku. Diagnosis saat itu tifus dan aku dianjurkan periksa laboratorium bila dalam 3 hari demam tidak turun. Keesokan harinya, gejala tidak membaik. Mama pulang dari luar negeri dan sangat mengkhawatirkanku. Ia pun mencari dokter langgananku yang hari itu praktek di salah satu RS sangattttt jauh dan butuh 2 jam di jalan untuk sampai ke sana. Setelah bersusah payah menunggu (lagi!), sampai di sana aku pun demam. Dokter memberikan aku sederet pemeriksaan laboratorium yang harus kujalani. Diagnosis saat itu demam berdarah. Mama lalu bertanya tentang kemungkinan aku dapat pergi ke Perancis tanggal 26 Juli. Dengan tegasnya ia berkata tidak dan memberikan contoh seorang anak profesor FKUI yang meninggal 2 hari sebelum ujian spesialisnya akibat syok demam berdarah. Hmm... siapa yang tidak takut mendengar cerita itu? Setelah memeriksa laboratorium, besoknya kami bertemu dokter itu lagi di rumah sakit yang lain yang harus menunggu kurang lebih 4 jam. Dari hasil lab, terlihat bahwa aku terinfeksi bakteri sejenis tifus namun lebih ringan. Fungsi hatiku meningkat banyak dan dugaan dengue semakin mengarah padahal tes sebelumnya negatif. Tiba-tiba sang dokter menyarankan untuk dirawat. Aku langsung menjawab tidak. Tapi dalam pikiranku, aku menimbang segala hal positif dan negatif bila aku dirawat dan tentu saja lebih banyak ke hal positif. Dengan mengorbankan kepergianku tanggal 26, aku pun diopname pada tanggal 25 Juli. Dari segala pemeriksaan yang dilakukan, akhirnya terlihat bahwa aku menderita dengue, lebih tepatnya demam dengue. Fungsi hati masih tinggi namun tidak ada hepatitis (syukurlah). Gejala diare dan mual datang dan pergi seenaknya.

Beberapa kali aku bertanya-tanya dalam hati, "Apa sebenarnya tujuan Tuhan memberikan aku penyakit ini? Apakah untuk menghukum aku yang selama ini menyangsikan keberadaanNya? Atau malah menyelamatkanku karena tahu aku pasti akan terbantai habis bila tetap pergi?" Seiring berjalannya waktu, aku pun mendapatkan jawabannya. Aku sama sekali tidak terbayang bila dalam penerbangan lebih dari 10 jam itu, aku dapat kuat bertahan, terutama bila gejala demam berdarahku semakin memburuk. Saat itu aku berpikir, "Yahh, mungkin ini memang yang terbaik untukku. Tuhan masih sayang kepadaku dan menyelamatkanku." Dan tentu saja semua orang tahu bila berhadapan dengan demam berdarah, urusannya adalah nyawa. Jadi walaupun begitu banyak kerugian yang kusebabkan, tapi yang penting aku masih hidup, bertahan melawan penyakit yang sudah 3x menginfeksiku dan pernah membunuh sahabat karibku.

Saat ini, setelah lebih dari 1 minggu berlalu dan sudah keluar dari perawatan RS, keadaanku sudah jauh lebih baik tetapi masih belum fit 100%. Masalah sepertinya terus saja datang dan membuatku terus memikirkan penyakit terburuk yang dapat menjelaskan semua keadaan yang aku alami. Saat ini kedudukannya sama, dalam 2 hari lagi aku akan berangkat ke Perancis, menyusul ide liburan dari mama. Dan aku pun ke dokter lagi karena kontrol dan memburuknya suatu masalah lama. Akhirnya penyebabnya dapat diketahui dan aku pun menyesali kecerobohanku. "Apakah ini suatu tanda bahwa aku sebaiknya tidak pergi?" begitulah pikirku lagi. Tapi ternyata dokter yang lain ini mengizinkan aku walaupun sebenarnya dia menganjurkan untuk opname lagi untuk observasi. Dengan berbagai macam syarat yang sepertinya mustahil dilakukan di Perancis saat liburan, hatiku rasanya tidak menentu. Ingin senang atau khawatir. Satu kesalahan kecil saja nanti bisa menghancurkan hidupku. Mungkin memang terlalu berlebihan, tapi setidaknya aku tidak dapat menjalani kehidupan selayaknya orang-orang seusiaku. Tapi yang penting, aku masih hidup. Karena seandainya saja aku tetap berangkat tanggal 26 Juli, selain nyawaku bisa tercabut akibat virus Dengue yang mematikan, - kalaupun aku masih hidup - aku bisa-bisa terjangkit hepatitis atau mungkin lebih parah lagi. Wah, ternyata Tuhan memang bekerja dengan caraNya sendiri. Semoga saja jalan yang saat ini aku tempuh benar dan Ia selalu menyertaiku. Dan semoga saja kejadian ini membuatku dekat denganNya lagi. :)

Sabtu, 24 Juli 2010

France

Saat kumerenung
Kau bisikkan kata-kata indah
Membuatku melambung
Terpesona akan bahagia

Dan kau pun berjanji
Dan kau pegang kata-katamu
Aku pun begitu
Bersama kita jalani

Mimpi indah memang tidak nyata
Hidup bagaikan mimpi juga tidak ada
Aku pun hanya termangu
Kau tetap tegak terpaku

Apakah ini yang disebut karma?
Ataukah ini hukumanku?
Atau Kau malah membantuku?
Atau ini hanyalah cobaan semata?

Bila jodoh akan bertemu jua
Bila Ia berkenan kita akan bersama juga
Kuhanya berharap semua dapat tercapai
Agar kita dapat abadi

Sabtu, 17 Juli 2010

Stuck

Kosong...
Hampa...
Sepi rasanya malam ini
Pikiranku buntu
Cahaya itu redup
Aku termangu
Aku termenung
Kosong ini...
Akankah terisi?
Oleh apa?
Kumencari
Tapi tetap kuberdiam
Lumpuh...
Kosong ini...
Apakah abadi?