Senin, 01 November 2010
For You, From Your Secret Admirer
Pandangan kita bertemu
Karena malu aku langsung memalingkan wajahku
Tak sempat senyum kusunggingkan untukmu
Kau membuat jantungku berdegup kencang
Gerak-gerikku pun tak terkendali
Kumelangkah menjauh
Tapi ternyata kau ada di sisiku
Susah payah kukontrol napasku
Dan kutahan senyumku
Walau kuingin tertawa bahagia
Karena mimpiku terlaksana
Aku tahu kau sadar akan daya tarikmu
Tapi apakah kau tahu kalau kau melelehkanku?
Mengubah total diriku menjadi seorang remaja
Yang akan berbuat apapun demi idolanya
Aku memuja setiap inci tubuhmu
Senyum dan suaramu membuatku terbuai
Apalagi tatapan matamu padaku
Tahukah kau betapa aku sangat menginginkanmu?
Tapi kutak kuasa berucap
Hanya magnetmu yang menarikku
Tuk senantiasa memandangimu
Entah bagaimana kau bisa memahami perasaanku
Aku ingin mengenalmu lebih jauh
Aku ingin kau memperhatikanku
Aku ingin menjadi orang terdekatmu
Mungkin ini hanya kekaguman
Mungkin ini bukan cinta
Tapi bagaimanapun juga
Kau membuatku rindu
Akan waktu yang kita lewati bersama
Senin, 20 September 2010
Gangguan Penyesuaian
Tiga minggu lalu, pasien ditinggalkan orang yang disayanginya.
Dream
Last month, when Oma was hospitalized for the last time, I kept praying to God, "Please heal her, give her some time, at least until my uncle's arrival (which was the day she died)." And we tried so hard to keep her alive. We told her that my sister would return from Malaysia (6 days before), her sister would return from Australia (5 days before), I would graduate (1 day before), and surely, my uncle's arrival - which was too late. Anything to give her more strength, more motivation. And I would never imagine that in the day that I graduated as "Sarjana Kedokteran", the scene would be totally different. With only t-shirt, shorts, and flip flops (as I had washed my hairsprayed hair and make-up face) and a bag of robe and hat, I would enter Oma's room in hospital. I wore a mask, smiled to her, hoping that she was conscious, but she was sleeping with her mouth wide opened. And I would never imagine that that day, I would take a picture with her in an unconscious state. But that was happened. And I want to punish myself because when she woke up, I didn't tell her that I had graduated, that I was "S, Ked." then. Because if I had told her, MAYBE... she would be happier and stronger, facing the day after, waiting for her beloved son. And of course I would never imagine that that was the last time I saw her alive...
People said that I had to let her go and I told them I did. But as time goes by, I kept tracing back her symptoms, what must be done and what mustn't be done. It was really hard to let her go, sorry... it IS hard to let her go.
Rabu, 01 September 2010
For Oma
She's a fighter...
He left her due to cancer
Then she fought her best for her 7 kids
And she succeeded
She's a fighter...
She had RA in her 70s
She did all the forbiddances
She did all the medications
She did all the rehabilitations
She's a fighter...
She had to face the death of her own daughter
And she stood up, fought to walk again
She's a fighter...
She couldn't accept that she was getting sicker
But slowly,
She let us help her
She's a fighter...
When the CAP infected her
And all of her kids accompanied her
She fought...
With a decompensated heart and pulmonary edema
She was back to life
A life with NGT and catheters
And she didn't complain
She smiled everytime we talked to her
She's a fighter...
She had to face the reccurent urinary infection
She had to be hospitalized every 1 to 3 months
Yet she used to go home
She's a fighter...
The last time she was hospitalized
Everything was different
The symptoms, the room
Apparently she got Pseudomonas and HAP
And still, she fought for about a week
Then she was free from the suffering
Leaving us a big hole in our hearts
She's the strongest person I've known
For 84 years she had fought
for love and family
Living a silent and immobilized life
The one person who lived for others
The one person who watched us
The one person who loved us
She's my OMA...
Sabtu, 31 Juli 2010
God works in mysterious ways
Beberapa kali aku bertanya-tanya dalam hati, "Apa sebenarnya tujuan Tuhan memberikan aku penyakit ini? Apakah untuk menghukum aku yang selama ini menyangsikan keberadaanNya? Atau malah menyelamatkanku karena tahu aku pasti akan terbantai habis bila tetap pergi?" Seiring berjalannya waktu, aku pun mendapatkan jawabannya. Aku sama sekali tidak terbayang bila dalam penerbangan lebih dari 10 jam itu, aku dapat kuat bertahan, terutama bila gejala demam berdarahku semakin memburuk. Saat itu aku berpikir, "Yahh, mungkin ini memang yang terbaik untukku. Tuhan masih sayang kepadaku dan menyelamatkanku." Dan tentu saja semua orang tahu bila berhadapan dengan demam berdarah, urusannya adalah nyawa. Jadi walaupun begitu banyak kerugian yang kusebabkan, tapi yang penting aku masih hidup, bertahan melawan penyakit yang sudah 3x menginfeksiku dan pernah membunuh sahabat karibku.
Saat ini, setelah lebih dari 1 minggu berlalu dan sudah keluar dari perawatan RS, keadaanku sudah jauh lebih baik tetapi masih belum fit 100%. Masalah sepertinya terus saja datang dan membuatku terus memikirkan penyakit terburuk yang dapat menjelaskan semua keadaan yang aku alami. Saat ini kedudukannya sama, dalam 2 hari lagi aku akan berangkat ke Perancis, menyusul ide liburan dari mama. Dan aku pun ke dokter lagi karena kontrol dan memburuknya suatu masalah lama. Akhirnya penyebabnya dapat diketahui dan aku pun menyesali kecerobohanku. "Apakah ini suatu tanda bahwa aku sebaiknya tidak pergi?" begitulah pikirku lagi. Tapi ternyata dokter yang lain ini mengizinkan aku walaupun sebenarnya dia menganjurkan untuk opname lagi untuk observasi. Dengan berbagai macam syarat yang sepertinya mustahil dilakukan di Perancis saat liburan, hatiku rasanya tidak menentu. Ingin senang atau khawatir. Satu kesalahan kecil saja nanti bisa menghancurkan hidupku. Mungkin memang terlalu berlebihan, tapi setidaknya aku tidak dapat menjalani kehidupan selayaknya orang-orang seusiaku. Tapi yang penting, aku masih hidup. Karena seandainya saja aku tetap berangkat tanggal 26 Juli, selain nyawaku bisa tercabut akibat virus Dengue yang mematikan, - kalaupun aku masih hidup - aku bisa-bisa terjangkit hepatitis atau mungkin lebih parah lagi. Wah, ternyata Tuhan memang bekerja dengan caraNya sendiri. Semoga saja jalan yang saat ini aku tempuh benar dan Ia selalu menyertaiku. Dan semoga saja kejadian ini membuatku dekat denganNya lagi. :)
Sabtu, 24 Juli 2010
France
Kau bisikkan kata-kata indah
Membuatku melambung
Terpesona akan bahagia
Dan kau pun berjanji
Dan kau pegang kata-katamu
Aku pun begitu
Bersama kita jalani
Mimpi indah memang tidak nyata
Hidup bagaikan mimpi juga tidak ada
Aku pun hanya termangu
Kau tetap tegak terpaku
Apakah ini yang disebut karma?
Ataukah ini hukumanku?
Atau Kau malah membantuku?
Atau ini hanyalah cobaan semata?
Bila jodoh akan bertemu jua
Bila Ia berkenan kita akan bersama juga
Kuhanya berharap semua dapat tercapai
Agar kita dapat abadi
Sabtu, 17 Juli 2010
Stuck
Hampa...
Sepi rasanya malam ini
Pikiranku buntu
Cahaya itu redup
Aku termangu
Aku termenung
Kosong ini...
Akankah terisi?
Oleh apa?
Kumencari
Tapi tetap kuberdiam
Lumpuh...
Kosong ini...
Apakah abadi?