Jumat, 11 Juni 2010

Sex and The City 2, "I AM WOMAN"


Oh yes I am wise
But it's wisdom born of pain
Yes, I've paid the price
But look how much I gained
If I have to, I can do anything
I am strong (strong)
I am invincible (invincible)
I am woman


Lagu di atas dinyanyikan dengan sangat amatir oleh Sarah Jessica Parker, Kim Cattrall, Kristin Davis, dan Cynthia Nixon dalam film Sex and The City 2. Walau begitu, tetap saja lagu itu dapat memeriahkan suasana dan mendapat tanggapan yang sangat positif dari audiens. Bukan cuma hiburan yang disuguhkan, tetapi lirik lagu itu menggambarkan keseluruhan film.
Film Sex and The City 2 memang tentang wanita dan masalah-masalahnya. Cerita yang fairy tale, baju-baju bermerk dan glamor, pria-pria keren, dan tempat-tempat eksotis menghiasi film ini. Yang mengejutkan adalah kali ini sang penulis ingin menyampaikan pesan yang sedikit 'lebih berat' dari film pertama. Yah, karena ini film sekuel, tentu saja perbandingannya dengan film pertama tidak dapat dihindari. Kalau film pertama dapat mengemas masalah tiap karakter dan mengembangkannya dengan baik, pada film ini kurang terlihat karena dibayangi oleh tema besar yang memang ingin diangkat. Tema besar itu adalah "Suara Perempuan" yang dengan ekstrem digambarkan oleh Michael Patrick King (sutradara dan penulis) tentang Perempuan Barat dan Perempuan Timur. Tentu saja gambaran Perempuan Barat diwakili oleh 4 sahabat yang sudah kita kenal. Perempuan Timur di sini adalah para wanita Abu Dhabi yang harus memakai jilbab dan cadar. Kontradiksi antara keterbukaan perempuan Barat dengan ketertutupan perempuan Timur disatukan dengan hak suara yang dimiliki perempuan. Carrie Bradshaw baru saja merilis bukunya, suatu satire tentang pernikahan yang dikritik oleh The New Yorker. Karikaturnya digambarkan dengan bibir yang ditutup. Ia lalu menyamakan dirinya dengan para perempuan Abu Dhabi yang memakai cadar. Masalah ini langsung terjawab oleh Samantha dengan mengatakan bahwa penulis review merasa terintimidasi. Masalah yang sama juga dialami oleh Miranda Hobbes, sang pengacara yang begitu menyukai pekerjaannya. Suatu hari ada atasan baru yang sangat tidak menyukainya dan selalu mengangkat tangannya untuk menyuruh Miranda diam. Miranda pun akhirnya menyadari bahwa itulah penyebab atasannya tidak menyukainya, karena merasa terintimidasi oleh suara seorang perempuan. Puncaknya adalah bentrokan budaya yang dialami Samantha Jones yang kita tahu adalah seorang gila seks. Dari cara ia berbicara, berpakaian, dan berlaku, semuanya salah di mata Miranda yang mempelajari kebudayaan Abu Dhabi. Tapi Samantha tetaplah Samantha. Ia tidak dapat dikekang oleh budaya mana pun. Alhasil ia pun ditangkap polisi dan liburan indah mereka harus diakhiri. Tetapi bentrokan budaya Barat dan Timur belum selesai bila tidak diakhiri dengan Samantha berpakaian tank top dan celana pendek (karena kepanasan) membereskan tasnya yang jatuh, dengan dikelilingi para pria Abu Dhabi yang berpakaian khas daerah mereka dan akan pergi shalat Jumat. Mereka semua berdiri mengelilingi Samantha dengan gerak-gerik seperti menghakiminya. Pesan berikutnya bahwa semua perempuan di belahan dunia mana pun sama, tidak peduli kemasan luarnya, tersampaikan dengan adegan para perempuan Abu Dhabi melepas jilbab dan baju khasnya (sempat disebut oleh Miranda) dan ternyata berpakaian layaknya Perempuan Barat.
Selain masalah di atas yang memang serius, tentu saja masalah perempuan yang umum ditemukan juga diangkat dalam film ini. Charlotte sebagai ibu rumah tangga yang sangat mencintai keluarganya merasa sangat bersalah karena menikmati liburan tanpa kedua anak yang memang merepotkan. Pasalnya, Rose yang saat ini berumur 2 tahun selalu berteriak dan menangis. Lily pun tidak membantu karena ia sudah lebih besar dan aktif. Untungnya ada pengasuh penuh waktu yang sangat membantunya tetapi sangat seksi sehingga ia merasa terintimidasi, takut suaminya 'bermain' dengan pengasuhnya. Di sepanjang film, sifat cemasnya ini sangat tergambarkan. Lalu, Miranda yang seorang ibu, merasa bersalah karena tidak dapat lebih dekat dengan anaknya, tetapi di satu sisi ia juga sangat menyukai pekerjaannya. Carrie yang saat ini sudah menikah selama hampir 2 tahun, tidak dapat menyesuaikan diri dengan gaya hidup suaminya. Mereka mempunyai kebebasan sendiri tentang perkawinan dan hal itu ditentang oleh orang-orang sekelilingnya. Belum lagi Carrie bertemu dengan mantan kekasihnya di Abu Dhabi, kesetiaannya pun diuji dan pernikahannya terancam batal.
Selain masalah keluarga dan pasangan, Samantha yang memang hidup bebas digambarkan mengalami ketakutan akan menopause. Ia menelan sejumlah vitamin dan hormon untuk mempertahankan daya tariknya. Gairahnya yang menurun saat melihat sekumpulan pria setengah telanjang membuat ia semakin yakin akan ke-menopause-annya.
Semua masalah yang dialami keempat sahabat ini tentu saja dialami oleh perempuan mana pun yang seumuran. Kalau dilihat lagi, semua masalah ini sangat pelik dan kompleks. Tetapi bagaimana pun film ini adalah film hiburan yang akhir ceritanya pasti happy-end. Pesan utama juga sudah tersampaikan sehingga untuk masalah-masalah yang sebenarnya lebih bersahabat dengan para penonton ini diselesaikan dengan cara khas Hollywood: digampangkan! Untungnya Charlotte dan Carrie menikahi pria yang tepat sehingga mereka dapat bernapas lega. Untungnya, nanny yang sangat seksi itu mempunyai orientasi seksual yang berbeda. Miranda pun tetap berada di jalannya karena suaminya juga sangat mendukungnya. Samantha tetap menarik di mata para pria dan tetap mendapatkan seks yang ia inginkan.
Yah, film ini adalah film perempuan, penuh dengan pemandangan bagus, tawa, dan emosi yang dimanjakan. Sayangnya pesan berat yang ingin disampaikan sutradara kurang mampu mengembangkan karakter para tokoh utamanya, kecuali Samantha. Bila tidak diberitahukan di setiap percakapan mungkin kita tidak menyadarinya. Di akhir film pun kita tidak mendapatkan rasa puas seperti yang dirasakan setelah menonton film pertamanya. Walaupun pengemasannya tidak sebagus film pertama tetapi film ini patut diacungi jempol karena berani mengangkat tema "I AM WOMAN."


Tidak ada komentar:

Posting Komentar